FESTIVAL GASTRONOMI SUMBAWA

wawan

Sumbawa merupakan sebuah daerah yang berada di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Sumbawa dikenal dengan daerah yang kaya akan bahan tambang dan sentra peternakan, serta Keeksotikan pulau dan alamnya menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung kesana. Untuk menarik wisatawan mancanegara perlu diadakan sebuah promosi yang baik dan tertata rapi. Salah satu cara promosinya yaitu dengan mengadakan sebuah event internasional ataupun nasional. Dan Sumbawa pun sudah melakukan hal tersebut dengan diadakannya berbagai festival budaya pariwisata dan gastronomi. Pada tahun 2011 dan 2012 sendiri Sumbawa telah melaksanakan festival tersebut diantaranya adalah  festival Sumbawa, festival Sakaya, dan festival Moyo.

Festival Sumbawa merupakan festival budaya yang diselenggarakan pada  7 Mei 2011 dan  didalamnya terdapat berbagai macam acara  yang menjungjung tinggi nilai nilai budaya Sumbawa. Salah satu acara dalam festival ini adalah lomba masakan khas Sumbawa yang terdiri dari 3 jenis makanan yaitu Singang, Sepat dan Gecok.

Bagi orang awam dan orang luar daerah Sumbawa mungkin asing mendengar ke tiga jenis masakan tersebut. Singang merupakan masakan tradisional berbahan ikan segar yang dibumbui dengan berbagai macam rempah singang ini selintas mirip dengan gulai ikan karena kuahnya. Yang kedua sepat. Sepat merupakan ikan bakar yang disajikan dengan nasi putih, sambal tomat dan irisan mentimun. Dan ditemani dengan kuah sepat. Kuah sepat terbuat dari terong, mangga muda, daun aru dan ketimun dituangi air. Kuah sepat disajikan tanpa dimasak lebih dahulu. Ini menjadikan kuah ini terasa asam segar. Rasanya seperti acar. Bedanya, asam kuah ini alami dari bahannya, bukan karena cuka. Dan masakan khas Sumbawa yang terakhir adalah Gacok. Gacok merupakan makanan khas sumbawa yang berbahan utama daging dan jeroan sapi. Dihidangkan dengan cara seperti ditumis dan dibalut dengan parutan kelapa berbumbu.

Lomba masak ini diikuti oleh  26 satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkup Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Persatuan Hotel dan Restoran (PHRI) NTB, serta dari kalangan masyarakat umum. Serta hal yang membanggakan wakil gubernur Sumbawa ikut terjun langsung untuk menjadi juru masak dalam kegiatan lomba tersebut. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah untuk bisa ikut mendukung dan mengembangkan makanan khas Sumbawa.

s1

Dari berlangsungnya festival ini ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) NTB Hj. Martha Elok Eveni, S.Pd, berharap bisa menambah kreasi kuliner Sumbawa dan  berharap dalam lomba masakan khas Sumbawa itu akan muncul kreatifitas baru yang bisa dibukukan dan disebarluaskan melalui toko buku atau dijadikan oleh-oleh bagi para tamu yang berkunjung ke NTB. Sementara ketua pelaksana beraharap terselengaranya festival ini dapat menambah kahasanah masakan di Indonesia, meninkatkan citra masakan khas Sumbawa dan menumbuhkan kreatifitas dan inovasi baru dalam hal menu masakan khas Sumbawa.

Setelah belajar dari tahun 2011 kota sumabawa pun mulai giat mengadakan festival gastronomi yang mengangkat tema kuliner. Bahan baku khas daerah Sumbawa ataupun makanan yang menjadi makanan khas Sumbawa terus diangkat dan dikembangkan. Di tahun 2012 terdapat 2 festival besar yang ada di Sumbawa. Event tersebut adalah Festival Sakaya dan Festival Moyo.

Festival Sakaya diadakan oleh Badan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17-18 Maret 2012 dengan pusat kegiatan di Kota Kecamatan Utan.  Pada festival Sakaya ini dimeriahkan dengan lomba kuliner dan makan Srikaya. Lomba kuliner berbahan baku Srikaya ini di ikuti oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dari seluruh kabupaten/kota di NTB. Sedangkan lomba makan Srikaya bisa diikuti oleh masyarakat umum dari berbagai kalangan. Lomba ini diadakan untuk memperkenalkan srikaya sebagai buah lokal yang banyak dibudidayakan petani lahan kering yang tersebar di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok.

Di Sumbawa buah Srikaya dikenal dengan nama Sakaya, di Bima bernama Garoso dan di Lombok orang menyebutnya dengan Griti. Selain menggelar berbagai lomba cipta menu makanan dan minuman berbahan baku srikaya, kata dia, pihaknya juga akan memeriahkan Festival Sakaya 2012 dengan pawai kendaraan yang dihiasi buah srikaya, pameran, seminar,pentas seni budaya dan pemilihan putri sakaya. Pemilihan putrid sakaya ini diadakan untuk menyalurkan nyalurkan aktifitas, kreatifitas, penambahan wawasan dan ajang aktualisasi generasi muda dengan mengenalkan buah sakaya sebagai komoditi yang unik di wilayah jnj.

Melalui event tersebut maka dapat menguji intelektualitas, wawasan yang luas dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni budaya, kepariwisataan dan kepedulian lingkungan terutama dalam menyikapi isu-isu nasional dan internasional. Ihin Solihin salah seorang Panitia Festival Sakaya 2012 ini menulis bahwa kegiatan Pemilihan Putri Sakaya 2012 ini  memilih empat pemenang utama yang akan dipersiapkan untuk menjadi Duta Wisata Kabupaten Sumbawa.  Duta budaya dan kepariwisataan NTB memiliki responsibilitas yang tinggi.  Ia harus  memahami potensi wisata Kabupatennya, dan juga pengetahuan mengenai Buah Sakaya secara Komprehensif. Melalui festival ini diharapkan dapat mengembangkan agribisnis tanaman buah lokal spesifik sebagai sumber pendapatan masyarakat dan memotivasi petani dan penangkar buah srikaya untuk lebih kreatif dan produktif. menjadi ajang promosi dan apresiasi buah lokal spesifik serta pertemuan petani, pengusaha, dan pakar tanaman hortikultura, khususnya sakaya.

s2

Event terahir yang ada di Sumbawa adalah Festival MOYO, festival ini merupakan festival terlama yang pernah ada di Indonesia. Karena festival ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada  1 November 2012  hingga 21 Januari 2013. Festival ini  menampilkan 12 item wisata yang menjadi daya tarik pulau Sumbawa. Pembukaan Festival ini menampilkan keunikan tradisi masyarakat Sumbawa di 24 Kecamatan. Penggunaan kata Moyo pada festival ini sengaja dilakukan karena Moyo merupakan salah satu nama pulau yang menjadi icon wisata nasional dan sudah dikenal oleg wisatawan mancanegara. Adapun tokoh yang pernah ke pulau Moyo adalah Lady Diana, Edwin Van dersaar dan lainnya.

Adapun kegiatan yang ada di festival Moyo antara lain Kegiatan sepeda gunung wisata juga akan meramaikan kegiatan wisata Festival Moyo, akan dilaksanakan pada 1 Nopember. Agendanya untuk mengunjungi wisata sejarah dan alam, Barapan Kebo juga akan digelar pada 1 sampai 2 November. Pada 20 -23 November dengan kegiatan Moyo MICE, menampilkan pameran kuliner khas Sumbawa dan kerajinan-kerajinan khas Sumbawa serta kegiatan promo investasi.

Kemudian pada 26 sampai 30 November 2012, digelar Pekan Budaya Samawa (PBS) ke 15 dengan tema Tu Sakoat ke Tu Sakuat Budaya Tana Intan Bulaeng. Pada 15 sampai 25 Nopember akan diselenggarakan Main Jaran (Pacuan Kuda) di Moyo Hilir. Tradisi turun temurun lainnya, adalah Nganyang atau berburu babi yang akan digelar serempak pada 28 hingga 28 November di Kecamatan Plampang, Lantung, Ropang, Lenangguar, dan Orong Telu. Bagi pencinta memancing, akan dimanjakan dengan lomba mancing. Catatan panitia, item yang satu ini banyak peminatnya. Sehingga akan digelar sebanyak 3 kali di dua lokasi yang berbeda, yakni pada 25 Nopember dan 2 Desember di teluk Saleh dan 9 Desember di Bendungan Batu Bulan. Khusus penikmat pemandangan alam bawah laut, akan disuguhi dengan item diving di spot diving ternama di perairan Pulau Moyo.

Keinginan pemerintah Sumbawa untuk mngembangkan sektor pariwisata dan gastronomi terlihat jelas dengan dukungan dan konsistensinya dalam mengadakan festival-festival budaya,pariswisata maupun gastronomi, hal ini menjadi sebuah hal yang sangat mengemberikan karena dengan banyaknya diadakan festival maka kemungkinan wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang akan semakin tinggi. Tapi ada hal yang menjadi pekerjaan rumah  besar bagi pemerintahan pulau Sumbawa yaitu akses transportasi yang masih kurangg. Karena Sumbawa merupakan pulau kecil yang masih belum mepunyai bandara yang mampu menampung pesawat besar dari luar. Maka pemerintah Sumbawa harus bekerjasama dan menyusun bagaimana mengatasi aspek infrastruktur yang masih minim di Pulau Nusa Tenggara barat ini (Wawan Setiawan).