KONTRIBUSI UPI DALAM FESTIVAL KULINER NON BERAS DAN NON TERIGU DI JAWA BARAT

Pesta Rakyat digelar Pemerintah Propinsi Jawa Barat, Minggu pagi (15 September 2012) di Gedung Sate.  Pada pesta ini digelar “Festival Kuliner  menampilkan Enam Chef Hotel Berbintang mengolah Tujuh  Jenis Pangan Olahan Non-Beras dan  Terigu.”

Pada pagi tersebut dicatat rekor MURI untuk inovasi 590 produk olahan non beras   dan non terigu.  Indonesian Chef Association Badan Pengurus Daerah Jawa Barat yang dipimpin Weddyana Yanuar memimpin para culinarian yang berasal dari berbagai hotel dan juga perguruan tinggi seperi Program Studi Manajemen Industri Katering dan LPTP Panghegar untuk mensukseskan kegiatan tersebut.  Program Studi Manajemen Industri Katering berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut dengan dosen Mata Kuliah Teknik Pengolahan Cuisine Adi Ruhaedi, dan Dewi Turgarini, S.S., MM.Par  dosen Mata Kuliah Manajemen Hotel dan Restoran dari Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.

Inilah aksi  para Chef tersebut  mengolah  Jenis Pangan Olahan Non-Beras dan  Terigu yaitu pertama  Chef Willy dari Hotel Aston Primera Pasteur dengan menu “Ganyong Lyonaise dengan Iga Kambing Saus Mint.”  Kedua Chef Bony Wijaksana dari Hotel Grand Pasifik  dengan menu “Pancake Ubi dengan Udang Bakar Saus Mentega.”  Ketiga  Chef Dewo dengan dua menu “Tim Talas dengan Ayam Saus Telur, dan Singkong Au Gratin dengan Pepes Ikan Mas Gulung.” Keempat Chef Hery Haryanto dari Revel Cafe Louge di Jalan Setiabudi 64dengan menu, “Schootel Jagung dengan Tomato Coulis.”  Kelima Chef Toyo dari Galery Cieumbeuleuit dengan menu, “Sukun Gulung Isi Daging Asap dengan Saus Krim.”  Keenam Chef Deden dari  Hotel Golden Flower dengan menu, “Tim Nasi Hanjeli Sayuran dengan Sate Goreng Pedas.”

Pelaksanaan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan para chef yang memastikan proses pengolahan berjalan lancar, mereka culinarian dari kota Bandung Seperti Chef Johan (Hotel Lodaya), Chef Anton (GH Universal), Chef Alfi, Chef Bambang (Green Cafe), dan disponsori produsen KOKITA..

Ketua ICA BPD Jabar memaparkan bahwa para chef Jawa Barat mampu berjuang mengusung kuliner local ke dunia internasional.  Karena  tidak kalah dengan seluruh penampilannya, dan pada kegiatan di hari Ahad itu dibagikan resep makanan.  Para chef tersebut  tidak pelit berbagi ilmu karena pada dasarnya dibutuhkan keahlian khusus dalam mengolah suatu resep, namun diberikan kemudahan bagi para pengunjung untuk mengolah produk dengan trik para pakar tersebut.

ICA BPD Jawa Barat bersama para stakeholder diantaranya Universitas Pendidikan Indonesia  tak tanggung-tanggung setelah pelaksanaan kegiatan tersebut akan beraksi dalam kegiatan “Battle of Chef yang akan dilaksanakan Kota Baru Parahyangan pada hari Senin (17 September 2012).  Reputasi mereka tidak main-main untuk menggebrak dunia wisata kuliner diantaranya dengan memecahkan rekor membuat “Olahan Colenak Seberat 1 Ton di Istana Plaza, dan “Mengolah 99 Makanan Tradisional Indonesia” dalam event Lokalicius.”

Ingin mengetahui apa opini para chef di hari itu? Kita simak pendapat  Chef Toyo dr Galery Cimbeuleuit .  Alasan pemilihan menu “Sukun Gulung Isi Daging Asap dengan Saus Krim.”  Sebenarnya sukun dapat diolah menjadi gorengan, ia menawarkan menu  yang lebh menarik.  Sarannya sebaiknya  pilih buah sukun  yang masih mentah, karena rasanya akan tawar dan gurih .  Menurutnya rasa sukun lebih enak dari Ubi dan Talas. Proses pengolahannya buah sukun tersebut dapat dikukus kemudian digiling hingga halus, baru kemudian  dibumbui dan diberi daging atau protein lainnya sebagai variasi. Semua bahan kan mudah didapat dipasar mana saja, dan harganya pun tidak mahal.

Chef Dewo yang mencoba membudayakan makan Talas bagi generasi muda. Kemudian Chef Bony yang mengolah Ubi menjadi olahan pancake, ia memaparkan bahwa ubi memiliki rasa manis memang perlu menyesuaikan dengan proteinnya.  Udang dengan sausnya mentega cocok, selain itu pun dengan daging ayam pun serasi.  Pemilihan ubi pada kegiatan ini karena masih klasik, mudah diperoleh bahan bakunya, dan dapat dibawa ke ajang internasional.

“Publik harus paham bahwa masakan tradisonal bila dikreasikan akan sangat kaya dengan beragam inovasi.  Seperti misalnya beras dan tyerigu dapat diganti dengan Ganyong, Jagung, dan Singkong  Sebetulnya Indonesia  lebih kaya dari negara Asia lainnya, hal ini beralasan mengingat Indonesia adalah Negara kepulauan dan terdiri dari 33 Propinsi, yang  bila digali memiliki ciri khas tertentu yang memperkaya kuliner Indonesia.”ujar Chef Willy.

Chef Deden  yang mengusung menu memaparkan Hanjeli dapat  direbus  dan menjadi pengganti nasi sebagai pengganti bahan baku karbohidrat. Pengolahan Hanjeli prosesnya tidak  rumit mirip dengan nasi , dan kandungan gizinya mirip beras, rasanya pun relatif tawar mirip nasi namun memiliki rasa  lebih gurih.  Bahan baku ini  cocok ditemani  sayuran dan beragam protein untuk mengganti nasi. Namun memang saat ini hanjeli pembelian bahan bakunya  belum dibudidayakan secara luas, sehingga membutuhkan campur tangan pemerintah karena saat ini di daerah Soreang.

Chef Hery Haryanto yang mengolah jagung mudah, karena bisa dimodifikasi dengan digoreng dan dikukus, bahkan dibakar.  Banyak lagi variasi bisa digali dalam beragam bentuk sebagai makanan tradisional yang memiliki banyak vitamin, dan protein yang tidak kalah dengan makanan luar.  Ia pun menyarankan publik untuk memilih Jagung yang memiliki cangkang masih segar, karena dipastikan rasanya akan manis.

Lex Laksamana Zaenal LAN Dipl.HE. Sekretaris Propinsi Jawa Barat memaparkan dalam kesempatan tersebut kepada Dewi Turgarini bahwa kegiatan seperti ini harus terus menerus disosialisasikan.  Diharapkan konsumsi makan beras akan turun berupaya mencapai target menyamai negara Vietnam dan Jepang.  Bila gerakan ini dilakukan maka kerawanan pangan karena ketergantungan terhadap beras akan makin berkuang.  Ia pun berpesan kepada publik untuk mencintai produk Indonesia dan Jawa Barat, dan berusaha mengganti dari bahan beras ke yang lain. Kegiatan ini sangat positif untuk menyosialisasikan kepada masyarakat agar lebih mengenal karbohidrat tanpa beras dan terigu.

Pengunjung pada kegiatan itu begitu antusias melihat olahan dari para chef tersebut.  Seperti misalnya  Lia guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 44, yang merasakan bahwa Hanjeli rasanya gurih sekali, hanya saja sayang Hanjeli susah cari dicari, dan harganya cukup mahal.  Ia mengharapkan aka ada pembudidayaan Hanjeli agar masyarakat luas dapat melepaskan ketergantungan terhadap beras apabila memang harus mencari alternatif pengganti beras dan terigu.  Hal ini seragam diucapkan Naufal siswa kelas 4 sd sudirman dan Haikal Siswa Kelas 3 SMP 41 Jakarta yang merasakan enaknya Hanjeli.

Pada dasarnya kegiatan ini sangat baik karena semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesadaran akan makanan bergizi. Terutama untuk pemilihan makanan “Berimbang,  Bergisi,  Beragam,  Aman, dan  Halal (B3AH). Dan tidak pesimis pula para culinarian Jawa Barat  akan terus bergerak meningkatkan wawasan kepada publik akan pentingnya kreativitas dan inovasi dari bahan baku lokal yang berujung pada pengembangan kuliner Indonesia ke Mancanegara nantinya.